Apakah Anda pernah
mendengar tentang hukum kekekalan energi yang disampaikan oleh
Isaac
Newton ? Ilmuwan dunia terkenal ini menjelaskan bahwa setiap energi di
bumi ini tidak pernah hilang dari kehidupan, tetapi hanya sekedar
berubah bentuk saja. Contohnya adalah zat cair yang menguap, kemudian
akan mengembun dan akhirnya turun kembali menjadi hujan. Zat cair ini
sesungguhnya tidak pernah berkurang dari kehidupan, hanya berubah bentuk
dan akhirnya kembali lagi dalam keseimbangan sebagai zat cair di alam
ini.
Dalam kehidupan manusia pada umumnya, hukum kekekalan energi
“Isaac Newton” ini sebenarnya juga berlaku dalam aplikasi kehidupan
nyata sehari-hari. Di dalam tubuh kita sudah tersimpan sumber energi
yang tak terbatas. Setiap energi yang dilepaskan oleh tubuh kita –
apakah itu energi positif maupun energi negative – sesungguhnya tidak
pernah hilang dari muka bumi ini. Artinya setiap energi yang dipancarkan
dari tubuh kita, nilainya tidak akan pernah berubah. Kalau yang kita
pancarkan dari tubuh kita adalah energi positif, maka yang akan kembali
adalah energi positif yang akan kita terima lagi. Demikian sebaliknya,
kalau energi negatif yang kita pancarkan, maka yang akan kembali ke kita
adalah energi negatif.
Sederhananya begini, dalam aplikasi nyata
kehidupan kalau Anda menolong orang lain yang sedang memerlukan bantuan
pertolongan misalnya, maka sebenarnya tubuh kita sedang memancarkan
energi positif yakni berupa tindakan positif kebaikan. Energi positif
kebaikan yang Anda pancarkan dari diri Anda sesungguhnya tidak akan
hilang dari muka bumi ini. Energi kebaikan yang anda pancarkan akan
selalu ada di alam ini dan akan kembali kepada diri Anda. Bentuknya bisa
saja sama, apakah kita ditolong kembali oleh orang lain pada saat
memerlukan bantuan, atau bisa juga dalam berubah dalam bentuk nilai
positif yang berbeda. Misalnya, Anda mendapatkan ketenangan jiwa,
keselamatan hidup, kebahagiaan hati, penghargaan dari orang lain dan
bahkan pahala dari Tuhan YME.
Dan luar biasanya lagi adalah,
setiap orang yang senang berbagi energi kebaikan kepada orang lain, ia
tidak akan pernah kekurangan sumber energi kebaikan dalam dirinya. Dalam
kehidupan keagamaan kita, hal ini diperkuat dengan apa yang difirmankan
Allah SWT,
“bahwa siapa saja yang memancarkan energi positifnya
dengan berbagi, menolong dan mencintai sesama kehidupan dan seluruh
isinya, maka Allah akan mengembalikan energi positif ini dalam kehidupan
kita”.
Bahkan dalam pandangan Allah Tuhan Yang Maha Memiliki
Sumber Energi Kehidupan, energi positif berupa kebaikan, cinta kasih
tersebut akan dikembalikan dalam jumlah yang berlipat ganda.
Bentuk
pengembalian yang kita terima bisa saja berupa makin dicintai orang
lain, menerima banyak kasih sayang dari sesama manusia, mendapatkan
kebaikan dan kemuliaan hidup, meraih kemudahan dalam berusaha, meraih
keberhasilan dalam bekerja dan berbagai kemudahan hidup lainnya.
Dengan
demikian kalau hidup semakin banyak digunakan untuk melepaskan energi
positif dengan banyak melakukan tindakan positif bagi orang lain,
berbagi kebaikan, menolong sesama kehidupan, dibandingkan dengan hanya
mementingkan diri sendiri, akan semakin mengangkat derajat atau “value”
diri seseorang dihadapan manusia dan dihadapan Tuhan. Inilah yang saya
maksudkan dengan daya ungkit energi positif bagi kesuksesan. Semakin
besar energi positif dalam hidup yang kita pancarkan dari tubuh kita,
akan menjadikan daya ungkit luar biasa dalam meninggikan kehidupan
meraih sukses dan kemuliaan hidup. Hidup akan terasa menjadi semakin
mudah, lebih tenteream, semakin ringan dan membahagiakan hati.
Pertanyaannya
sekarang adalah, apakah benar-benar ada energi positif atau tindakan
positif dalam bisnis, dalam pekerjaan, dalam hidup di dunia yang semakin
komplek dengan persaingan ketat sekarang ini ?
Bagaimana agar
kita dapat meningkatkan sumber energi positif sehingga dapat menjadi
daya ungkit bagi sukses dan kemuliaan hidup kita ?.
Sumber energi positif sesungguhnya sudah ada dalam diri pribadi
masing-masing individu. Seringkali kita tidak menyadari, kurang memahami
atau bahkan tidak perduli dengan sumber energi dalam diri kita. Di
dalam buku saya The Art of Life Revolution yang diterbitkan Elex Media
Komputindo, dibahas apa saja energi positif dalam bisnis, pekerjaan dan
hidup dan diuraika bagaimana menghidupkan energi positif dalam karier,
bisnis dan hidup sehingga meningkatkan kesuksesan. Disini kami ingin
berbagi 4 tips agar dapat meningkatkan sumber energi sukses mulia dalam
hidup:
1. Memiliki tujuan hidup yang dilandasi oleh idealisme pada nilai-nilai luhur dan kemuliaanDalam
kehidupan, banyak sekali kita temukan orang-orang sukses dengan
penghargaan tertinggi, menjadi pemimpin kebijaksanaan hidup, pembaharu
kehidupan, karena mereka memiliki tujuan hidup yang dilandasi
nilai-nilai Luhur dan kemuliaan. Mereka mengabdikan hidupnya untuk
kepentingan sesamanya. Mereka memiliki idealisme tinggi dengan
mengabdikan hidupnya untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi
orang lain. Memberikan pelayanan kepada banyak umat manusia, mengabdikan
hidup untuk dunia dan alam semesta, mengabdikan ilmu pengetahuannya
untuk kemajuan peradaban dunia.
2. Aktivasi Kekuatan Hati Dengan Menumbuhkan Keikhlasan Berbagi KebaikanKeikhlasan
dalam berbagai kebaikan adalah energi positif yang akan menyebar, yang
tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga menciptakan lebih
banyak lagi energi positif yang akan kembali kepada si pemberi. Ini
adalah hukum kehidupan yang benar, tidak peduli apakah si pemberi
menginginkan atau bahkan tidak menyadarinya. Siapapun yang memberi
dengan ikhlas, tanpa disadarinya telah meningkatkan nilai “value”
dirinya bagi kesuksesan. Siapa yang melepasakan energi positif kebaikan,
akan meningkatkan energi positif yang mengalir kepadanya hingga
melipatgandakan kebahagiaannya.
3. Filosfi hidup “memberi dan melupakan”Prinsipnya
memberi dan melupakan merupakan landasan berpikir ikhlas dari dalam
hati. Memiliki keikhlasan melakukan pekerjaan positif, memancarkan
energi kebaikan kepada orang lain. Kita hanya perlu meyakini bahwa
setiap energi positif yang kita pancarkan sesungguhnya tidak akan pernah
berkurang. Meyakini bahwa energi positif tidak hilang dari kehidupan,
tetapi akan kembali mengalir kedalam diri kita. Kita tidak perlu kawatir
akan menjadi kekurangan, tidak perlu memiliki ketakutan tentang masa
depan yang belum pasti, karena kita meyakini suatu saat energi positif
ini pasti akan kembali. Ini merupakan suatu keniscayaan atau suatu hukum
alam yang sejati.
4. Menumbuhkan Jiwa EmpatiBagaimana
caranya untuk dapat memiliki jiwa empati ? Cara sederhana adalah kita
dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kita dapat mengerti apa
yang dibutuhkan orang lain. Jadi mengelola hati untuk dapat membantu
kebutuhan orang lain. Kita memiliki kepekaan dan kepedulian yang
kemudian diinterpretasikan melalui tindakan nyata membantu orang lain.
Memiliki
jiwa empati merupakan energi positif ini akan memberikan efek positif
bagi kebahagiaan ketika melakukan kebaikan. Tidak mementingkan hidup
untuk dirinya tetapi membagi kepedulian dengan segera mengulurkan
tangannya bagi mereka yang membutuhkan tanpa harus diperintah orang
lain.
Memang, "otak" adalah pemberian Allah yang sangat berguna. Tidak heran
disebutkan "berakal dan berhati" karena memang otak dan hati adalah
sumber segala-galanya. Menjadi baik, setengah baik, sangat baik, luar
biasa baik, atau menjadi sangat tidak baik juga bersumber dari dua hal
tersebut. Menurut saya pribadi, sebenarnya lebih tepatnya bukan
"otak", tetapi "daya cipta". Sebab otak juga dimiliki oleh binatang,
tetapi binatang tidak memiliki daya cipta sebesar seperti yang dimiliki
oleh manusia.
Daya cipta ini terkait pada ilmu pengetahuan. Sedangkan hati, berisi daya rasa, terkait pada ilmu ketuhanan.
Daya
cipta / otak / ilmu pengetahuan ini bersifat horizontal, sesuatu yang
bisa menjadi pelengkap kebutuhan antar manusia. Diciptakanlah
kemudahan-kemudahan di dalam proses hidup dan kehidupan melalui apa yang
dihasilkan oleh otak. Kendaraan, pesawat, kereta api, sepeda, dan semua
teknologi-teknologi dari masa ke masa yang mengiringinya. Semua
aspek-aspek visual dunia akan masuk pada otak sehingga menimbulkan
kecintaan terhadap hal-hal berbau material. Semakin kuat daya otak ini,
semakin tinggi ilmu pengetahuannya dan semakin secara horizontal ia bisa
menghasilkan banyak hal.
Daya rasa / hati / aspek ketuhanan ini
bersifat vertikal, sesuatu yang menjadi "penghubung" antara seorang
manusia dengan Tuhannya. Itulah sebabnya ketika seorang manusia paling
jenius didunia mengalami goncangan jiwa dan ia mengadu pada Tuhannya, ia
tidak menggunakan otaknya, tapi hatinya. Aspek vertikal ketuhanan ini
memiliki sumber keajaiban tiada tara yang membuat pengontrol pada aspek
daya cipta. Tanpanya, kecenderungan daya cipta akan bersifat merusak.
Semua aspek non visual dunia akan "terlihat" disini. Semakin kuat daya
hati ini, semakin tinggi tingkat "rasa" vertikal yang dimilikinya dan
semakin ia mampu melihat yang tidak terlihat secara horizontal.